Showing posts with label indonesia. Show all posts
Showing posts with label indonesia. Show all posts

Tuesday, January 8, 2019

Peran Desa Sebagai Sendi Kemakmuran Bangsa


Selama ini keberadaan desa selalu menjadi tempat yang masih kurang diperhatikan, baik infrastrukturnya maupun kearifan lokalnya. Banyak desa-desa dari berbagai daerah di Indonesia masih jauh tertinggal dari kata layak untuk akses ke tempat itu sendiri, seperti infrastruktur yang masih belum memadai dan fasilitas-fasilitas yang dapat menunjang kelangsungan hidup masyarakat untuk menjalankan aktivitasnya juga masih terdapat kekurangan. Pembangunan-pembangunan terkini dan terbarukan menjadi prioritas pada kota-kota dari setiap daerah, terutama di Ibukota atau pulau Jawa.

Tidak dipungkiri, bahwa keberadaan kota memang selalu menjadi pusat perhatian bagi para wisatawan baik lokal maupun interlokal. Kota selalu dijadikan tujuan utama bagi siapapun yang hendak mengisi waktu liburannya, atau bahkan ada yang menjadikannya sebagai tempat tinggal (dari kampung pindah ke kota). Hal tersebut tentu tidak terlepas dari pengertian bahwa kota merupakan suatu tempat yang cukup potensial daripada di kampung/desa. Selain itu letak pusat pemerintahan juga menempatkannya di kota, selain untuk memajukan kota itu sendiri juga memudahkan fasilitas pelayanan publik bagi masyarakat di daerahnya masing-masing, kota dianggap tempat yang setrategis guna melaksanakan segala aktivitas pemerintahan untuk memajukan dan mengembangkan suatu daerah. Tak heran, jika kota selalu mendapatkan perhatian lebih daripada desa yang terpencil.

Meskipun demikian, bahwa keberadaan kota telah menjadi barometer berkembangnya suatu daerah, namun kesemuanya itu tak lepas dari peran desa yang juga selalu memberikan kontribusinya untuk kemakmuran bangsa. Bagaimana tidak, daerah yang paling banyak menghasilkan kebutuhan primer yang dapat dinikmati oleh masyarakat luas secara kontinu berasal dari desa. Hasil bumi yang berlimpah, kekayaan alam yang berlimpah, hampir kesemuanya diproduksi di desa, dan ini yang dikatakan sebagai desa menjadi sendi kemakmuran bangsa. Artinya, desa lebih produktif daripada di kota.

Namun pada kenyataannya, hingga kini masih banyak desa-desa yang jauh tertinggal terutama aksesibilitas yang belum memadai, padahal sangat produktif akan hasil buminya. Hal tersebut tentu akan menghambat pertumbuhan ekonomi yang baik bagi kelangsungan hidup masyarakat Indonesia, dengan minimnya akses infrastruktur yang layak tentu akan menyulitkan dan menghambat masyarakat untuk menjalankan aktivitasnya (pekerjaannya) yang sebenarnya dapat memberikan kontribusi bagi kemakuran bangsa. Alhasil segala kebutuhan pokok akan terus mengimpor dari negara lain, yang sebetulnya di bumi pertiwi ini sangat berlimpah akan kekayaannya.

Hal ini tentu harus menjadi evaluasi lagi bagi pemerintah, agar pemerataan dalam segi kelayakan infrastruktur dan kontinuitas dapat dinikmati oleh masing-masing warga negara khususnya yang berada di desa terpencil supaya dapat menikmati hasil yang layak dari tanahnya sendiri. Bayangkan, jika infrastruktur yang efektif ke desa dapat terealisasi, juga perhatian pemerintah terkait harga hasil bumi dan pemanfaatan hasil bumi dari desa dapat terkondisikan dengan baik, maka negara sama dengan telah mewujudkan cita-cita bangsa Welfare State (kesejahteraan negara).

Sunday, January 6, 2019

Individualisme Dalam Suatu Persatuan


Persatuan merupakan bentuk dari kekompakan, kerukunan, dan solidaritas yang dapat mencirikan akan kebesaran suatu kelompok bahkan suatu negara sekalipun. Indonesia menjadi salah satu negara terbesar di dunia, hal tersebut karena Indonesia mengimplementasikan rasa kesatuan dan persatuan yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Indonesia terdiri dari pulau-pulau yang membentang luas, dengan memiliki keragaman agama, suku, dan budaya yang bisa bersatu, serta kekayaan alamnya yang tak dimiliki oleh negara lain. Itu sebabnya Indonesia pantas menyandang predikat negara terbesar dan kuat akan persatuannya.

Demi terwujudnya suatu persatuan yang konkret, maka setiap masing-masing individu dituntut untuk dapat mengasimilasi setiap perbedaan yang pluralistis. Bukan individualisme yang selalu dikedepankan. Tanpa disadari, sifat individualisme (egoisme, hedonisme, rasisme) akan menjadi masalah integral dalam membentuk suatu persatuan yang kokoh, sebab mereka hanya akan mementingkan dirinya sendiri tanpa mementingkan kepentingan bersama. Sehingga dapat memicu kesenjangan sesama anggota, bahkan saling bersinggungan. Dampaknya, akan tercerai berai yang berkepanjangan yang berefek ke masyarakat luas. Persatuan tidak hanya diasumsikan ke dalam suatu negara saja, atau pada wadah yang menaungi suatu kelompok tertentu. Melainkan persatuan juga dapat terbentuk di dalam keluarga dan rumah tangga, meski anggotanya yang relatif sedikit namun rasa saling memahami satu sama lain juga sangat dibutuhkan. Sebab di dalam keluarga, tempat di mana karakter anak mulai dibentuk, dan mereka akan mencontoh apa yang terjadi dalam keluarga itu sendiri.

Sifat individualisme dapat menjadikan orang yang satu dengan orang yang lainnya menjadi tidak seimbang akan kesadaran pentingnya solidaritas antar sesama. Teringat sebuah istilah yang dikemukkan oleh Aristoteles yaitu Zoon Politicon menerangkan bahwa manusia dikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain, sebuah hal yang membedakan manusia dengan hewan. Tidak hanya itu, dalam ajaran spiritual juga dijelaskan bahwa manusia (iman) sebagaimana jasad yang satu, yaitu mereka saling merasakan apa yang salah satu dari mereka rasakan (peduli satu sama lain, tidak bermusuh-musuhan). Oleh karena itu, pentingnya berafiliasi terhadap satu sama lain dapat mencirikan sebuah persatuan yang solid dan besar. Bukan besar dalam jumlah anggota, namun besar akan kesadaran manusianya untuk dapat menghormati satu sama lain.

Demikian juga dengan negara tercinta Indonesia, meskipun menjadi negara kesatuan yang besar, tetapi bukan berarti semua anggota masyarakatnya hidup dalam keadaan rukun dan kompak. Masih terdapat perselisihan antar umat beragama, yang menyatakan agama mereka menjadi agama yang paling benar/baik, dengan saling menebar kebencian, fitnah dan lain sebagainya. Tidak berhenti sampai di situ, masih terdapat juga kesenjangan sosial yang mengatasnamakan suku, budaya yang juga masing-masing menyatakan bahwa suku, budaya mereka yang paling baik. Seolah individualisme telah dilatarbelakangi oleh perbedaan, seperti ada anggapan bahwa perbedaan menjadi deviasi yang menjadikan ciri di antara mereka. Sehingga memicu perselisihan besar, yang masing-masing menciptakan Blok sendiri-sendiri. 

Seperti contoh di Amerika Serikat terkait etnis kulit putih yang selalu melakukan diskriminasi terhadap etnis kulit hitam, walaupun saat ini semua etnis mendapatkan kesetaraan sosial namun masih saja terjadi perselisihan yang mengatasnamakan perbedaan (kulit). Genosida di Myanmar, membantai muslim minoritas Rohingya dengan mengatasnamakan agama. Artinya, hampir di sebagian negara menjadikan perbedaan sebagai pembatas untuk dapat menjalankan kehidupan sesuai dengan keinginannya sendiri (individualisme), tanpa mementingkan keserasian antara umat manusia.

Jangan jadikan perbedaan apapun sebagai pembatas yang dapat membatasi keharmonisan sesama manusia untuk dapat hidup rukun dan kompak dalam berbangsa dan bernegara. Sebab tanpa kita sadari, suatu persatuan yang kuat terbentuk dengan adanya perbedaan. Perbedaan yang sesungguhnya menjadikan kita satu termasuk Indonesia merdeka sebab perbedaan yang menjadikan satu kekuatan, namun individualisme lah yang akan menjadikan kita runtuh.